Subscribe

Mengenai Saya

Pasuruan, East Java, Indonesia
Lucu, suka tertawa, suka bergaul, ngobrol, aktif, Cinta akan keluarga, kekeluargaan, persahabatan, cinta dan kasih sayang, perjuangan dan sacrifice also... Impianq, seperti yang diimpikan semua orang, hidup bahagia, mati masuk syurga... Hehe Berat sich... Tapi khan namanya juga harapan!!! Aq pingin banget ngebahagiain Bundaq, cz cuma Bunda permataq yang tersisa setelah aq kehilangan Ayah, Adik dan Nenekq... ILUVYALL

Sabtu, 11 Oktober 2008

Obama Menangkan ‘Pemilu’ di Kedubes AS

Augusta B Sirait
Barack Obama
(istimewa)

INILAH.COM, Jakarta – Calon Presiden Amerika Serikat Partai Demokrat Barack Obama memenangkan pemilu yang diselenggarakan oleh Kedubes AS kepada para jurnalis. Yang menarik, kemenangan itu diperoleh ‘Obama’ tanpa pemilihnya tahu bahwa yang dipilih adalah capres berdarah Afro Amerika itu.

‘Pemilu‘ yang berlangsung di acara press briefing, Jumat (26/9), di Kedubes AS, Jakarta, itu diikuti 22 orang jurnalis. Awalnya, para jurnalis diberikan gambaran mengenai konstitusi AS, tata cara pemilihan presiden, dan latar belakang kedua capres dari dua partai yang berbeda.

Pihak Kedubes AS kemudian memberika selembar kertas yang berisi visi dan misi yang akan dijalankan kedua capres jika mereka nantinya terpilih menjadi Presiden AS. Kemudian, para jurnalis mengisi jawaban dengan memilih capres mana yang didukung. Namum, kandidat hanya tertulis Capres A dan Capres B tanpa menyebutkan nama.

Hasilnya, 16 orang jurnalis memilih Capres A dan sisanya memilih Capres B. Semua baru tahu kandidat yang mereka pilih setelah Public Diplomacy Officer Kedubes AS Tristram Perry mengumumkan bahwa Capres A yang memenangkan ‘pemilu’ itu adalah Barack Obama.

Perry mengaku terkesima dengan hasil ‘pemilu’ yang diikuti jurnalis Indonesia itu. "Kami ingin melihat sejauh mana jurnalis Indonesia tertarik dengan sosok Capres AS, dan ternyata kalian lebih memilih Barack Obama untuk menjadi Presiden. Tapi hasil ini tidak berpengaruh apa-apa," ujarnya, yang disambut tawa para jurnalis. [R2]

Ancaman Mati Atas Obama Diselidiki

INILAH.COM, Washington - Dinas Rahasia Amerika Serikat telah menyelidiki dugaan ancaman mati terhadap calon presiden dari partai Demokrat Barack Obama. Ancaman itu terlontar Senin (6/10) saat digelar pertemuan terbuka dengan pasangan John McCain dan Sarah Palin.

Ancaman itu terungkap dari laporan Washington Post, yang menyatakan adanya teriakan ‘bunuh dia’, yang terdengar selama pertemuan terbuka itu, ketika nama Obama disebut-sebut.

Dugaan ancaman tersebut dikeluarkan ketika Palin berbicara mengenai hubungan Obama dengan mantan tokoh radikal 1960-an Bill Ayers, yang kelompoknya The Weathermen, melancarkan serangkaian serangan sebagai protes terhadap Perang Vietnam.

"Kami memperhatikan setiap ancaman secara sungguh-sungguh. Setiap kali kami menerima atau dilaporkan mengenai informasi seperti itu, kami menindak-lanjuti," kata jurubicara Dinas Rahasia Ed Donovan.

Namun, ia mengingatkan bahwa dalam pertemuan terbuka McCain, tidak ada agen Dinas Rahasia yang mendengar pernyataan bernada ancaman dan. “Juga tak ada pernyataan yang mengancam dilaporkan oleh penegak hukum atau masyarakat umum".

KAKA MASUK DAFTAR 100 ORANG PALING BERPENGARUH DI DUNIA

Gelandang serang AC Milan Kaka kembali mendapat penghargaan, kali ini pemain berkebangsaan Brasil itu masuk dalam daftar 100 orang paling berpengaruh di dunia versi majalah ternama asal Amerika Serikat Times.

Kaka tentunya boleh berbangga diri karena dalam daftar 100 orang paling berpengaruh di dunia, ia hanya satu-satunya pesepakbola diantara jajaran tokoh dunia lainnya sepaerti Vladimir Putin, Dalai Lama dan Brad Pitt.

Sedangkan untuk kalagan olahragawan Kaka didampingi oleh petenis legendaris Andre Agassi, pembalap sepeda kenamaan Lance Amstrong dan atlet Paralympian Oscar Pistorius. Pemain berusia 26 tahun itu masuk dalam ketegori 'Pahlawan dan Pionir'.

Terpilihnya Kaka dalam daftar 100 orang paling berpengaruh di dunia tidak lepas dari prestasinya di dalam lapangan dan sikapnya di luar lapangan.

Kaka pada tahun lalu sukses membawa Milan menjuarai Liga Champions, Piala Super Eropa, Piala Dunia Antar Klub dan terpilih sebagai Pemain Terbaik Dunia FIFA dan Ballon D'Or.

Selain itu di luar lapangan Kaka sangat peduli pada hal-hal kemanusiaan dan ia juga taat beribadah.

"Ketika saya mendengar kabar tersebut saya sungguh tergugah karena ini merupakan momen yang luar biasa," ujar Kaka dalam wawancaranya dengan Milan Channel.

"Saya kira ini kepuasan yang teramat sangat. Menjadi 100 orang paling berpengaruh di dunia merupakan sesuatu yang luar biasa istimewa. Melihat nama saya berada dalam daftar bersama 99 orang ternama di dunia membuat saya senang."

"Tidak mudah mendapatkan hal itu dari media Amerika, mereka memiliki pangsa pasar sendiri dan memiliki olahraga favorit mereka. Memperbolehkan saya, seorang pemain sepakbola, untuk masuk daftar merupakan perasaan yang hebat, dimana saya berterima kasih kepada Tuhan," sambung Kaka.

Yang mengejutkan adalah tidak adanya nama gelandang flamboyan David Beckham dalam daftar 100 orang paling berpengaruh di dunia meski ia sebenarnya bermain di Amerika Serikat.

(Tho/AFP)

10 Orang TERKAYA di Dunia dan di Indonesia :

Daftar orang terkaya di dunia secara data tahun 2008

3 besar terkaya 2008

Warren Buffett,

investor Amerika Serikat (AS) yang juga pemimpin Berkshire Hathaway Inc, menggeser posisi pendiri Microsoft Corp Bill Gates sebagai orang terkaya di dunia. Majalah Forbesdalam laporan terbarunya yang terbit Rabu (5/3) memperkirakan kekayaan Buffett mencapai USD62 miliar (Rp560 triliun). Pengusaha telekomunikasi asal Meksiko Carlos Slim berada di posisi kedua dengan kekayaan USD60 miliar. ”Kini Gates berada di peringkat ketiga setelah 13 tahun berada di peringkat pertama.Kekayaan Gates diperkirakan sekitar USD58 miliar,” ungkap CEO ForbesSteve Forbes. Menurut Forbes, keberhasilan Buffett menduduki posisi pertama merupakan pencapaian yang sangat penting.

” Keberhasilannya itu terjadi saat krisis keuangan melanda dunia dan Buffett telah mulai menjadikan perusahaan dalam kegiatan amal,”papar Forbes. ”Meskipun dia (Buffett) menyumbangkan sejumlah keuntungannya tiap tahun, saham Berkshire Hathaway, sumber kekayaan Warren Buffett,terus meningkat pesat.” ”Kekayaan Buffett meningkat USD10 miliar dalam kalender tahun lalu,”ungkap Forbes.

Buffett sering disebut sebagai Sage of Omaha oleh para investor karena dia hanya berinvestasi pada perusahaan-perusahaan besar yang mudah dimengerti bisnisnya, mendominasi pasar saham, serta memiliki pendapatan konsisten dan manajemen kuat. Pada awal 1960-an, Buffett mulai berinvestasi di Berkshire yang saat itu merupakan perusahaan pembuat tekstil. Sejak diambil alih, Berkshire dijadikan perusahaan induk untuk lebih 50 perusahaan mulai dari perusahaan cat Benjamin Moore, es krim Dairy Queen hingga pakaian dalam Fruit of the Loom dan pisau Ginsu.

Bill Gates,

Gates telah berada di posisi pertama orang terkaya dunia sejak 1995. Saat itu dia menggeser kedudukan Yoshiaki Tsutsumi, pengusaha real estat asal Jepang.Tsutsumi keluar dari daftar orang terkaya dunia tahun lalu setelah menerima vonis penjara atas perjanjian keuangan palsu dan insider tradingpada 2005. ”Harga saham Microsoft merosot sejak sebelum perusahaan milik Gates itu mengumumkan rencana akan membeli Yahoo senilai USD44,6 miliar pada 31 Januari,” ujar Forbes yang melakukan pemeringkatan berdasarkan harga saham 11 Februari 2008.

Jika harga saham Microsoft tidak merosot terlalu banyak, Gates diperkirakan tidak akan terlalu jauh peringkatnya dari Buffett. Adapun Carlos Slim merupakan mantan pemain saham yang dikenal sering membeli perusahaan murah, sedang berkembang, dan menjadikannya mesin pencetak laba. Slim membangun perusahaannya dengan memprivatisasi eks perusahaan telepon Pemerintah Meksiko,Telmex. America Movil merupakan perusahaan pengembangan dari Telmex dan kini menjadi bendera bisnis Slim.

America Movil telah menjadi perusahaan telepon seluler terbesar di Amerika Latin. Sejumlah pemimpin industri teknologi AS lainnya turun peringkat dalam daftar Forbes. Larry Ellison, CEO dan pendiri Oracle, turun ke peringkat 14 tahun ini, dari peringkat 11 tahun lalu. Sementara pendiri bersama Microsoft Paul Allen juga turun ke peringkat 41 dari peringkat 19 pada tahun lalu. Pendiri Google Sergey Brin dan Larry Page tetap berada dalam daftar orang terkaya dengan kekayaan masing-masing USD18,7 miliar dan USD18,6 miliar.

Mereka berada di peringkat 32 dan 33. Menurut Forbes, sebagian besar dari 10 orang terkaya dunia tetap berasal dari industri berat dan komoditas. Peringkat 4 ditempati Lakshmi Mittal, pengusaha baja, tempat kelima Mukesh Ambani, pengusaha minyak,dan tempat keenam Anil Ambani, saudara Mukesh yang merupakan pengusaha di bidang listrik dan komunikasi. Oleg Deripaska, pemilik perusahaan alumunium, berada di peringkat 9. Dua pengusaha ritel berada dalam daftar 10 orang terkaya dunia.

Yang pertama adalah pendiri Ikea, Ingvar Kamprad dari Swedia, di peringkat 7.Kedua, pendiri toko diskon asal Jerman, Aldi, Karl Albrecht di peringkat 10. Pengembang real estat India KP Singh di peringkat 8. Khusus di Asia Pasifik, Australia memiliki jumlah lebih banyak miliarder di Asia Pasifik dengan 14 miliarder. Diikuti 12 milialder asal Korea Selatan (Korsel) dan delapan miliarder asal Malaysia.

Lalu, tujuh miliarder asal Taiwan. Dari Indonesia dan Singapura masingmasing ada lima miliarder. Kemudian tiga miliarder dari Thailand dan dua miliarder dari Filipina. ”Total kekayaan 1.125 miliarder dunia mencapai USD4,4 triliun. Daftar miliarder itu meningkat dua kali lipat dalam empat tahun terakhir,” ungkap majalah Forbes. Menurut Forbes, ada 469 miliarder AS dengan total kekayaan USD1,6 triliun. Sementara itu ada 656 miliarder yang tinggal di luar AS dengan total kekayaan USD2,8 triliun.

”Rusia menjadi wilayah kedua terbesar sebagai tempat tinggal 87 miliarder dan Moskow kini menjadi pusat miliarder terbanyak di dunia. Ibu kota Rusia itu kini menjadi tempat tinggal lebih banyak miliarder dibandingkan Kota New York,” ungkap majalah Forbes. India, China, dan Turki juga menjadi tempat tinggal terbanyak dari para miliarder. Miliarder termuda dunia berusia 23 tahun, Mark Zuckerberg, merupakan pendiri situs jaringan sosial Facebook. Forbes memperkirakan jumlah kekayaannya USD1,5 miliar.

”Dia merupakan miliarder termuda yang pernah muncul dalam daftar peringkat miliarder dunia Forbes,”ungkap majalah itu. Zuckerberg berada di peringkat 785 dari seluruh daftar orang terkaya dunia versi Forbes. Kalkulasi Forbes itu juga berdasarkan nilai investasi Microsoft sebesar USD240 juta tahun lalu di Facebook. Krisis keuangan global yang terjadi saat ini telah melempar keluar sejumlah orang dari daftar orang terkaya Forbes.

Mereka yang keluar dari daftar itu ialah James Cayne, pemimpin bank investasi Bear Stearns Cos; William Pulte, pendiri perusahaan pengembang perumahan Pulte Homes Inc; dan Howard Schultz, pendiri jaringan kedai kopi Starbucks. Penurunan nilai tukar dolar AS turut berpengaruh dalam meningkatnya jumlah miliarder dari luar AS, khususnya karena daftar Forbes ditetapkan dalam mata uang dolar AS. (sindo)

(*Tambahan) Berikut ini daftar lengkap 100 orang-orang terkaya didunia tersebut :

Rank Name Citizenship Age Net Worth ($bil) Residence

1 Warren Buffett United States 77 62.0 United States
2 Carlos Slim Helu & family Mexico 68 60.0 Mexico
3 William Gates III United States 52 58.0 United States
4 Lakshmi Mittal India 57 45.0 United Kingdom
5 Mukesh Ambani India 50 43.0 India
6 Anil Ambani India 48 42.0 India
7 Ingvar Kamprad & family Sweden 81 31.0 Switzerland
8 KP Singh India 76 30.0 India
9 Oleg Deripaska Russia 40 28.0 Russia
10 Karl Albrecht Germany 88 27.0 Germany
11 Li Ka-shing Hong Kong 79 26.5 Hong Kong
12 Sheldon Adelson United States 74 26.0 United States
13 Bernard Arnault France 59 25.5 France
14 Lawrence Ellison United States 63 25.0 United States
15 Roman Abramovich Russia 41 23.5 Russia
16 Theo Albrecht Germany 85 23.0 Germany
17 Liliane Bettencourt France 85 22.9 France
18 Alexei Mordashov Russia 42 21.2 Russia
19 Prince Alwaleed Bin Talal Alsaud Saudi Arabia 51 21.0 Saudi Arabia
20 Mikhail Fridman Russia 43 20.8 Russia
21 Vladimir Lisin Russia 51 20.3 Russia
22 Amancio Ortega Spain 72 20.2 Spain
23 Raymond, Thomas & Walter Kwok Hong Kong NA 19.9 Hong Kong
24 Mikhail Prokhorov Russia 42 19.5 Russia
25 Vladimir Potanin Russia 47 19.3 Russia
26 Christy Walton & family United States 53 19.2 United States
26 Jim Walton United States 60 19.2 United States
26 S Robson Walton United States 64 19.2 United States
29 Lee Shau Kee Hong Kong 80 19.0 Hong Kong
29 Alice Walton United States 58 19.0 United States
31 David Thomson & family Canada 50 18.9 Canada
32 Sergey Brin United States 34 18.7 United States
33 Larry Page United States 35 18.6 United States
34 Michael Otto & family Germany 64 18.2 Germany
35 Stefan Persson Sweden 60 17.7 Sweden
36 Suleiman Kerimov Russia 42 17.5 Russia
37 Charles Koch United States 72 17.0 United States
37 David Koch United States 67 17.0 United States
39 Francois Pinault & family France 71 16.9 France
40 Michael Dell United States 43 16.4 United States
41 Paul Allen United States 55 16.0 United States
41 Kirk Kerkorian United States 90 16.0 United States
43 Steven Ballmer United States 52 15.0 United States
43 Abigail Johnson United States 46 15.0 United States
43 Shashi & Ravi Ruia India NA 15.0 India
46 Nasser Al-Kharafi & family Kuwait 64 14.0 Kuwait
46 Gerald Cavendish Grosvenor & family United Kingdom 56 14.0 United Kingdom
46 Carl Icahn United States 72 14.0 United States
46 Forrest Mars Jr United States 76 14.0 United States
46 Jacqueline Mars United States 68 14.0 United States
46 John Mars United States 71 14.0 United States
46 Birgit Rausing & family Sweden 84 14.0 Switzerland
46 Jack Taylor & family United States 85 14.0 United States
54 German Khan Russia 46 13.9 Russia
55 Susanne Klatten Germany 45 13.2 Germany
56 Vagit Alekperov Russia 57 13.0 Russia
56 Donald Bren United States 75 13.0 United States
58 Alain & Gerard Wertheimer France NA 12.9 United States
59 Dmitry Rybolovlev Russia 41 12.8 Russia
60 Azim Premji India 62 12.7 India
60 Naguib Sawiris Egypt 53 12.7 Egypt
62 Anne Cox Chambers United States 88 12.6 United States
63 Iskander Makhmudov Russia 44 11.9 Russia
64 Sunil Mittal & family India 50 11.8 India
65 Alexander Abramov Russia 49 11.5 Russia
65 Michael Bloomberg United States 66 11.5 United States
67 Viktor Vekselberg Russia 50 11.2 Russia
68 Michele Ferrero & family Italy 81 11.0 Monaco
68 George Kaiser United States 65 11.0 United States
68 Spiro Latsis & family Greece 61 11.0 Switzerland
68 Nassef Sawiris Egypt 46 11.0 Egypt
72 Alexei Kuzmichev Russia 45 10.8 Russia
73 Philip Knight United States 70 10.4 United States
73 Viktor Rashnikov Russia 59 10.4 Russia
75 Ernesto Bertarelli Switzerland 42 10.3 Switzerland
76 Kumar Birla India 40 10.2 India
77 Leonardo Del Vecchio Italy 72 10.0 Italy
77 Antonio Ermirio de Moraes & family Brazil 79 10.0 Brazil
77 Iris Fontbona & family Chile NA 10.0 Chile
77 Edward Johnson III United States 77 10.0 United States
77 Hans Rausing Sweden 82 10.0 United Kingdom
77 Vladimir Yevtushenkov Russia 59 10.0 Russia
77 Igor Zyuzin Russia 47 10.0 Russia
84 Serge Dassault & family France 82 9.9 France
85 Alberto Bailleres & family Mexico 75 9.8 Mexico
86 Ramesh Chandra India 68 9.6 India
87 Charles Ergen United States 55 9.5 United States
87 John Kluge United States 93 9.5 United States
87 Ronald Perelman United States 65 9.5 United States
90 Silvio Berlusconi & family Italy 71 9.4 Italy
91 Gautam Adani India 45 9.3 India
91 Petr Kellner Czech Republic 43 9.3 Czech Republic
91 Alisher Usmanov Russia 54 9.3 Russia
94 Adolf Merckle Germany 73 9.2 Germany
94 August von Finck Germany 78 9.2 Switzerland
96 Onsi Sawiris Egypt 78 9.1 Egypt
97 Mohammed Al Amoudi Saudi Arabia 62 9.0 Saudi Arabia
97 Robert Kuok Malaysia 84 9.0 Hong Kong
97 George Soros United States 77 9.0 United States
100 Abdul Aziz Al Ghurair & family United Arab Emirates 54 8.9 United Arab Emirates

Namun setidaknya, Indonesia pantas berbangga karena setidaknya memiliki seorang Milyuner yang mengungguli Milyuner kawakan semacam Steven Spielberg & Donald Trump (posisi 36 yakni Sukanto Tanoto (posisi 284)

Daftar Orang Kaya Indonesia Versi Forbes

Jakarta (ANTARA News) - Majalah bisnis Forbes Asia menetapkan Aburizal Bakrie, sekarang Menko Kesra, sebagai orang terkaya peringkat pertama dari 40 orang kaya Indonesia pada tahun ini dengan nilai kekayaan mencapai 5,4 miliar dolar AS dari tahun sebelumnya 1,2 miliar dolar AS.

Forbes dalam siaran persnya yang diterima ANTARA News di Jakarta, Kamis, menyebutkan, 10 besar dalam daftar orang kaya dan nilai kekayaannya sebagai berikut:

1. Aburizal Bakrie dan keluarga : 5,4 miliar dolar AS
2. Sukanto Tanoto (perusahaan April dan Asian Agri): 4,7 miliar AS
3. R. Budi Hartono: 3,14 miliar dolar AS
4. Michael Hartono: 3,08 miliar dolar AS (Budi Hartono dan Michael Hartono, dua saudara kandung yang memiliki saham di perusahaan rokok Djarum dan BCA)
5. Eka Tjipta Widjaja dan keluarga (Sinar Mas Group): 2,8 miliar dolar AS
6. Putera Sampoerna dan keluarga (Sampoerna Strategic): 2,2 miliar dolar AS
7. Martua Sitorus (Wilmar International): 2,1 miliar dolar AS
8. Rachman Halim dan keluarga (Gudang Garam): 1,6 miliar dolar AS
9. Peter Sondakh (Rajawali Group): 1,45 miliar dolar AS
10.Eddy William Katuari dan keluarga (Wings Group): 1,39 miliar dolar AS

Saya kapan masuk daftar itu ????

Hehe not just a dream but nothing is impossible!!!

Laskar Pelangi

Sinopsis Buku:

Begitu banyak hal menakjubkan yang terjadi dalam masa kecil para anggota Laskar Pelangi. Sebelas orang anak Melayu Belitong yang luar biasa ini tak menyerah walau keadaan tak bersimpati pada mereka. Tengoklah Lintang, seorang kuli kopra cilik yang genius dan dengan senang hati bersepeda 80 kilometer pulang pergi untuk memuaskan dahaganya akan ilmubahkan terkadang hanya untuk menyanyikan Padamu Negeri di akhir jam sekolah.

Atau Mahar, seorang pesuruh tukang parut kelapa sekaligus seniman dadakan yang imajinatif, tak logis, kreatif, dan sering diremehkan sahabat-sahabatnya, namun berhasil mengangkat derajat sekolah kampung mereka dalam karnaval 17 Agustus. Dan juga sembilan orang Laskar Pelangi lain yang begitu bersemangat dalam menjalani hidup dan berjuang meraih cita-cita. Selami ironisnya kehidupan mereka, kejujuran pemikiran mereka, indahnya petualangan mereka, dan temukan diri Anda tertawa, menangis, dan tersentuh saat membaca setiap lembarnya.Buku ini dipersembahkan buat mereka yang meyakini the magic of childhood memories, dan khususnya juga buat siapa saja yang masih meyakini adanya pintu keajaiban lain untuk mengubah dunia: pendidikan.
Saya sangat mengagumi novel Laskar Pelangi karya Mas Andrea Hirata. Ceritanya berkisah tentang perjuangan dua orang guru yang memiliki dedikasi tinggi dalam dunia pendidikan. [Novel ini menunjukkan pada kita] bahwa pendidikan adalah memberikan hati kita kepada anak-anak, bukan sekadar memberikan instruksi atau komando, dan bahwa setiap anak memiliki potensi unggul yang akan tumbuh menjadi prestasi cemerlang di masa depan, apabila diberi kesempatan dan keteladanan oleh orang-orang yang mengerti akan makna pendidikan yang sesungguhnya. (Kak Seto - Ketua Komnas Perlindungan Anak)

Ramuan pengalaman dan imajinasi yang menarik, yang menjawab inti pertanyaan kita tentang hubungan-hubungan antara gagasan sederhana, kendala, dan kualitas pendidikan. (Sapardi Djoko Darmono - Sastrawan dan Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya UI)

Di tengah berbagai berita dan hiburan televisi tentang sekolah yang tak cukup memberi inspirasi dan spirit, maka buku ini adalah pilihan yang menarik. Buku ini ditulis dalam semangat realis kehidupan sekolah, sebuah dunia tak tersentuh, sebuah semangat bersama untuk survive dalam semangat humanis yang menyentuh. (Garin Nugroho - Sineas)

Cerita Laskar Pelangi sangat inspiratif. Andrea menulis sebuah novel yang akan mengobarkan semangat mereka yang selalu dirundung kesulitan dalam menempuh pendidikan. (Arwin Rasyid - Dirut Telkom dan dosen FEUI).

Inilah cerita yang sangat mengharukan tentang dunia pendidikan dengan tokoh-tokoh manusia sederhana, jujur, tulus, gigih, penuh dedikasi, ulet, sabar, tawakal, takwa, [yang] dituturkan secara indah dan cerdas. Pada dasarnya kemiskinan tidak berkorelasi langsung dengan kebodohan atau kegeniusan. Sebagai penyakit sosial kemiskinan harus diperangi dengn metode pendidikan yang tepat guna. Dalam hubungan itu hendaknya semua pihak berpartisipasi aktif sehingga terbangun sebuah monumen kebajikan di tengah arogansi uang dan kekuasaan materi. (Korrie Layun Rampan - Sastrawan dan Ketua Komisi I DPRD Kutai Barat)

Resensi Buku:

Banyak orang yang telah membaca buku ini mengatakan kesan “menarik” kepada saya. Karena penasaran, saya pun membelinya. Setelah saya membacanya sendiri, ternyata bukan hanya kata menarik yang didapat dari cerita dalam buku ini, tapi SUNGGUH MENGESANKAN! Buku yang menurut saya banyak sekali pelajaran yang bisa diambil; keagamaan, persahabatan yang luar biasa, cinta pertama yang indah, ketegaran hidup, bahkan makna sebuah takdir yang tidak bisa kita tebak, Sebuah buku yang “pintar” hasil dari pemikiran seorang yang pintar. Menggabungkan dua hal yang berbeda, sastra dan science. Sepertinya saat kita membaca ini kita bukan hanya terlarut dalam perjalanan hidup pelaku didalamnya tapi juga kita bisa belajar banyak. Mulai dari ilmu dunia fisika, istilah biologi, geografi dari provinsi Bangka Belitong, sampai perekonomian masyarakat di sana yang dikuasai sepenuhnya oleh penambangan timah. Cerita ini memang lain dari cerita biasanya. Mengambil latar pada sebuah tempat yang tak terpikirkan oleh kita. Sebuah tempat kecil di Indonesia yang memiliki kekayaan yang luar biasa. Sayangnya tidak semua penduduknya dapat merasakan hasil dari kekayaan alam negerinya. Tersebutlah sebuah daerah di Belitong di mana masyarakat di dalamnya terbagi dalam dua bagian yang amat berbeda status sosialnya. Dimana terdapat masyarakat yang dapat menikmati fasilitas terbaik dan kehidupan yang sangat layak. Mereka lah orang-orang staf atau petinggi PN Timah. Di lain pihak, terdapat sekumpulan manusia yang harus jungkir balik untuk menafkahi keluarganya dan hidup dengan fasilitas yang bahkan sangat tidak memadai. Merekalah para pekerja rendahan dari PN Timah. Mereka tak bisa ikut merasakan kemewahan yang dinikmati para golongan elite, karna secara langsung, pemerintah disana telah memisahkan tempat tinggal, pekerjaan dan membedakan status diantara keduanya. Tersebutlah sebuah sekolah terpencil di daerah Belitong yang bahkan tak tersentuh tangan pemerintah, Sekolah Muhamadiyah. Bertahan demi pendidikan rakyat miskin. Pengorbanan dari satu-satunya pengajar yang harus diacungi jempol yang bertahan demi kemajuan pendidikan ilmu dan agama untuk anak-anak tidak mampu, dialah Ibu Mus. Dan ketabahan sang kepala sekolah yang terkadang merangkap sebagai guru, Pak Harfan. Benar-benar luar biasa membayangkan betapa merekalah cerminan kata-kata “Guru, Pahlawan tanpa tanda jasa” yang sesungguhnya. Mereka telah berhasil mencetak manusia-manusia yang walaupun tidak keseluruhan sukses secara materi tapi mereka semua sukses dalam berperilaku sosial yang baik. Berkeagamaan yang baik dan setidaknya jika ada yang menjadi petinggi, mereka bukanlah seorang koruptor. Inilah kisah yang paling menarik dari buku ini. Persahabatan sepuluh orang anak miskin yang menamakan diri mereka sebagai Laskar Pelangi. Mereka sudah bersama sejak mereka memulai bangku sekolah. Merekalah : Ikal, Mahar, Lintang, Harun, Syahdan, A Kiong, Trapani, Borek, Kucai dan satu-satunya wanita di kelas mereka, Sahara. Mereka semua diberi suatu karakter yang kuat satu sama lain oleh sang penulis sehingga sifat diantara mereka semuanya unik. Banyak hal yang mereka lalui bersama. Kemiskinan sepertinya bukan hal yang bisa merusak masa kanak-kanak mereka. Kisah indah percintaan anak muda antara Ikal dengan seorang Tionghoa bernama A Ling yang berawal dari pembelian kapur tulis yang mengesankan. Kesabaran Ikal untuk bisa mendapatkan kekasih hatinya sampai ketegaran Ikal saat A Ling akhirnya harus meninggalkannya. Dari sini kita dapat belajar bahwa seorang anak kecil bahkan bisa bersikap jauh lebih dewasa dibandingkan orang dewasa saat menghadapi masalah percintaan. Siapa juga akan menyangka bahwa sekolah terpencil Muhamadiyah bisa berbuah dua orang genius di bidang yang berbeda. Dialah Lintang, sang ilmuwan cilik. Dan Mahar, sang seniman sejati. Banyak perubahan besar yang mereka lakukan dalam merubah citra sekolah Muhamadiyah dimata masyarakat elite melalui bidang mereka masing-masing. Tapi ternyata nasib selanjutnya berkehendak lain. Ayah Lintang meningggal dunia, dan sang genius itu terpaksa harus menghentikan pendidikannya di sekolah Muhamadiyah akibat tak ada biaya. Tak ada yang menyangka juga bahwa sang seniman, Mahar, semakin hari justru malah semakin tertarik pada ilmu mistik alam gaib. Karena suatu hal, membawa ia pada suatu pertemuan dengan seorang anak perempuan tomboy, anak seorang penguasa kapal keruk di PN Timah, Flo. Karena tertarik pada bidang mistik yang dimiliki oleh Mahar, Flo akhirnya meninggalkan segala kemewahan sekolah PN untuk melanjutkan studinya di sekolah miskin Muhamadiyah. Mereka bersama kelompok pecinta alam gaibnya telah banyak menguak misteri yang dianggap orang keramat di daerah Belitong. Tak jarang kelompok yang dipimpin Mahar ini mendapatkan ejekan dari masyarakat setempat. Tapi Mahar serta Flo tak pernah menyerah. Juga walaupun telah ditegur oleh Ibu Mus karna telah menodai ilmu agama, tapi Mahar dan Flo tetap pada jalan yang telah ia tempuh. Hobi mereka pada alam gaib ini menyebabkan mereka terancam tak bisa mengikuti ebtanas karna nilai-nilai mereka yang semakin menurun. Mereka pun mulai resah. Akhirnya terlintas ide untuk meminta petunjuk pada seorang dukun sakti yang banyak disebut oleh masyarakat sebagai manusia setengah peri, Tuk Bayan Tula. Maka pergilah Flo dan Mahar bersama tim dunia mistiknya mengunjungi kediaman sang Tuk yang terdapat pada sebuah pulau tak berpenghuni yang terkenal sangat angker yaitu Pulau Lanun. Dengan mempertaruhkan nyawa sepanjang perjalanan, akhirnya mereka semua sampai di Pulau tersebut. Dengan menempuh perjalanan yang panjang dan mengerikan, akhirnya mereka sampai ke suatu gua tempat kediaman sang dukun. Dan mereka berhasil berjumpa langsung dengan Tuk Bayan Tula, sang idola mereka. Maka berceritalah Flo dan Mahar tentang masalah mereka di sekolah. Tuk yang menghargai usaha mereka mencapai pulau itu kemudian memberi mereka sebuah petunjuk yang tertulis pada sebuah gulungan kertas. Siapa menyangka ternyata petunjuk yang diberikan sang dukun bisa mengubah jalan hidup Mahar dan Flo. Dua belas tahun kemudian, kesepuluh sahabat itu menjadi seseorang yang benar-benar tidak bisa disangka. Mereka menjalani hidup mereka masing-masing dengan damai dan selalu bersyukur atas apa yang telah diberikan pada mereka saat itu. Seperti apakah petunjuk yang diberikan oleh sang dukun sakti kepada Mahar dan Flo hingga menyebabkan perubahan pada diri mereka? Bagaimana pula nasib sang genius Lintang setelah dia putus sekolah? Apa yang terjadi pula pada kisah cinta pertama Ikal pada A Ling, apakah masih ada harapan baginya untuk bertemu dengan A Ling? Ikuti kisahnya dalam buku Laskar Pelangi. Saya yakin, tak akan menyesal membaca buku ini karena buku ini memberi kita pelajaran, bagaimanapun hidup yang kita jalani, kita harus senantiasa bersyukur.



sumber : berbagai sumber

United Kingdom: History, Geography, Government, and Culture

United Kingdom

United Kingdom of Great Britain and Northern Ireland

Sovereign: Queen Elizabeth II (1952)

Prime Minister: Gordon Brown (2007)

Current government officials

Land area: 93,278 sq mi (241,590 sq km); total area: 94,526 sq mi (244,820 sq km)

Population (2007 est.): 60,776,238 (growth rate: 0.3%); birth rate: 10.7/1000; infant mortality rate: 5.0/1000; life expectancy: 78.7; density per sq mi: 652

Capital and largest city (2003 est.): London, 7,615,000 (metro. area), 7,429,200 (city proper)

Other large cities: Glasgow, 1,099,400; Birmingham, 971,800; Liverpool, 461,900; Edinburgh, 460,000; Leeds, 417,000; Bristol, 406,500; Manchester, 390,700; Bradford, 288,400

Monetary unit: Pound sterling (£)

Languages: English, Welsh, Scots Gaelic

Ethnicity/race: English 83.6%, Scottish 8.6%, Welsh 4.9%; Northern Irish 2.9%, black 2%, Indian 1.8%, Pakistani 1.3%, mixed 1.2%, other 1.6% (2001)

Religions: Christian (Anglican, Roman Catholic, Presbyterian, Methodist) 71.6%, Muslim 2.7%, Hindu 1%, other 1.6%, unspecified or none 23.1% (2001)

Literacy rate: 99% (2003 est.)

Economic summary: GDP/PPP (2007 est.): $2.137 trillion; per capita $35,100. Real growth rate: 3.1%. Inflation: 2.3%. Unemployment: 5.4%. Arable land: 23%. Agriculture: cereals, oilseed, potatoes, vegetables; cattle, sheep, poultry; fish. Labor force: 30.07 million; agriculture 1.5%, industry 19.1%, services 79.5% (2004). Industries: machine tools, electric power equipment, automation equipment, railroad equipment, shipbuilding, aircraft, motor vehicles and parts, electronics and communications equipment, metals, chemicals, coal, petroleum, paper and paper products, food processing, textiles, clothing, other consumer goods. Natural resources: coal, petroleum, natural gas, tin, limestone, iron ore, salt, clay, chalk, gypsum, lead, silica, arable land. Exports: $468.8 billion f.o.b. (2006 est.): manufactured goods, fuels, chemicals; food, beverages, tobacco. Imports: $603 billion f.o.b. (2006 est.): manufactured goods, machinery, fuels; foodstuffs. Major trading partners: U.S., Germany, France, Ireland, Netherlands, Belgium, Spain, Italy, China (2004).

Communications: Telephones: main lines in use: 32.943 million (2005); mobile cellular: 61.1 million (2004). Radio broadcast stations: AM 219, FM 431, shortwave 3 (1998). Radios: 84.5 million (1997). Television broadcast stations: 228 (plus 3,523 repeaters) (1995). Televisions: 30.5 million (1997). Internet Hosts: 6.1 million (2006). Internet users: 37.6 million (2002).

Transportation: Railways: total: 17,156 km (2005). Highways: total: 388,008 km; paved: 371,913 km (including 3,520 km of expressways); unpaved: 0 km (2005). Waterways: 3,200 km. Ports and harbors: Aberdeen, Belfast, Bristol, Cardiff, Dover, Falmouth, Felixstowe, Glasgow, Grangemouth, Hull, Leith, Liverpool, London, Manchester, Peterhead, Plymouth, Portsmouth, Scapa Flow, Southampton, Sullom Voe, Teesport, Tyne. Airports: 471 (2006).

International disputes: Gibraltar residents vote overwhelmingly in referendum against “total shared sovereignty” arrangement worked out between Spain and UK to change 300-year rule over colony; Mauritius and Seychelles claim the Chagos Archipelago (British Indian Ocean Territory) and its former inhabitants, who reside chiefly in Mauritius, but in 2001 were granted UK citizenship and the right to repatriation since eviction in 1965; Argentina claims the Falkland Islands (Islas Malvinas) and South Georgia and the South Sandwich Islands; Rockall continental shelf dispute involving Denmark and Iceland; territorial claim in Antarctica (British Antarctic Territory) overlaps Argentine claim and partially overlaps Chilean claim; disputes with Iceland, Denmark, and Ireland over the Faroe Islands continental shelf boundary outside 200 NM.

Major sources and definitions

Ruler

Rulers of England and Great Britain

British Prime Ministers Since 1770

Northern Ireland

Scotland

Wales

Overseas Territories and Crown Dependencies of the United Kingdom

Flag of United Kingdom

Geography

The United Kingdom, consisting of Great Britain (England, Wales, and Scotland) and Northern Ireland, is twice the size of New York State. England, in the southeast part of the British Isles, is separated from Scotland on the north by the granite Cheviot Hills; from them the Pennine chain of uplands extends south through the center of England, reaching its highest point in the Lake District in the northwest. To the west along the border of Wales—a land of steep hills and valleys—are the Cambrian Mountains, while the Cotswolds, a range of hills in Gloucestershire, extend into the surrounding shires.

Important rivers flowing into the North Sea are the Thames, Humber, Tees, and Tyne. In the west are the Severn and Wye, which empty into the Bristol Channel and are navigable, as are the Mersey and Ribble.

Government

The United Kingdom is a constitutional monarchy and parliamentary democracy, with a queen and a parliament that has two houses: the House of Lords, with 574 life peers, 92 hereditary peers, and 26 bishops; and the House of Commons, which has 651 popularly elected members. Supreme legislative power is vested in parliament, which sits for five years unless dissolved sooner. The House of Lords was stripped of most of its power in 1911, and now its main function is to revise legislation. In Nov. 1999 hundreds of hereditary peers were expelled in an effort to make the body more democratic. The executive power of the Crown is exercised by the cabinet, headed by the prime minister.

England has existed as a unified entity since the 10th century; the union between England and Wales, begun in 1284 with the Statute of Rhuddlan, was not formalized until 1536 with an Act of Union; in another Act of Union in 1707, England and Scotland agreed to permanently join as Great Britain; the legislative union of Great Britain and Ireland was implemented in 1801, with the adoption of the name the United Kingdom of Great Britain and Ireland; the Anglo-Irish treaty of 1921 formalized a partition of Ireland; six northern Irish counties remained part of the United Kingdom as Northern Ireland and the current name of the country, the United Kingdom of Great Britain and Northern Ireland, was adopted in 1927.

History

Stonehenge and other examples of prehistoric culture are all that remain of the earliest inhabitants of Britain. Celtic peoples followed. Roman invasions of the 1st century B.C. brought Britain into contact with continental Europe. When the Roman legions withdrew in the 5th century A.D., Britain fell easy prey to the invading hordes of Angles, Saxons, and Jutes from Scandinavia and the Low Countries. The invasions had little effect on the Celtic peoples of Wales and Scotland. Seven large Anglo-Saxon kingdoms were established, and the original Britons were forced into Wales and Scotland. It was not until the 10th century that the country finally became united under the kings of Wessex. Following the death of Edward the Confessor (1066), a dispute about the succession arose, and William, Duke of Normandy, invaded England, defeating the Saxon king, Harold II, at the Battle of Hastings (1066). The Norman conquest introduced Norman French law and feudalism.

The reign of Henry II (1154–1189), first of the Plantagenets, saw an increasing centralization of royal power at the expense of the nobles, but in 1215 King John (1199–1216) was forced to sign the Magna Carta, which awarded the people, especially the nobles, certain basic rights. Edward I (1272–1307) continued the conquest of Ireland, reduced Wales to subjection, and made some gains in Scotland. In 1314, however, English forces led by Edward II were ousted from Scotland after the Battle of Bannockburn. The late 13th and early 14th centuries saw the development of a separate House of Commons with tax-raising powers. Edward III's claim to the throne of France led to the Hundred Years' War (1338–1453) and the loss of almost all the large English territory in France. In England, the great poverty and discontent caused by the war were intensified by the Black Death, a plague that reduced the population by about one-third. The Wars of the Roses (1455–1485), a struggle for the throne between the House of York and the House of Lancaster, ended in the victory of Henry Tudor (Henry VII) at Bosworth Field (1485).

During the reign of Henry VIII (1509–1547), the church in England asserted its independence from the Roman Catholic Church. Under Edward VI and Mary, the two extremes of religious fanaticism were reached, and it remained for Henry's daughter, Elizabeth I (1558–1603), to set up the Church of England on a moderate basis. In 1588, the Spanish Armada, a fleet sent out by Catholic King Philip II of Spain, was defeated by the English and destroyed during a storm. During Elizabeth's reign, England became a world power. Elizabeth's heir was a Stuart—James VI of Scotland—who joined the two crowns as James I (1603–1625). The Stuart kings incurred large debts and were forced either to depend on parliament for taxes or to raise money by illegal means. In 1642, war broke out between Charles I and a large segment of the parliament; Charles was defeated and executed in 1649, and the monarchy was then abolished. After the death in 1658 of Oliver Cromwell, the lord protector, the Puritan Commonwealth fell to pieces and Charles II was placed on the throne in 1660. The struggle between the king and parliament continued, but Charles II knew when to compromise. His brother, James II (1685–1688), possessed none of Charles II's ability and was ousted by the Revolution of 1688, which confirmed the primacy of parliament. James's daughter, Mary, and her husband, William of Orange, then became the rulers.

Queen Anne's reign (1702–1714) was marked by the Duke of Marlborough's victories over France at Blenheim, Oudenarde, and Malplaquet in the War of the Spanish Succession. England and Scotland meanwhile were joined by the Act of Union (1707). Upon the death of Anne, the distant claims of the elector of Hanover were recognized, and he became king of Great Britain and Ireland as George I. The unwillingness of the Hanoverian kings to rule resulted in the formation by the royal ministers of a cabinet, headed by a prime minister, which directed all public business. Abroad, the constant wars with France expanded the British Empire all over the globe, particularly in North America and India. This imperial growth was checked by the revolt of the American colonies (1775–1781). Struggles with France broke out again in 1793 and during the Napoleonic Wars, which ended at Waterloo in 1815.

The Victorian era, named after Queen Victoria (1837–1901), saw the growth of a democratic system of government that had begun with the Reform Bill of 1832. The two important wars in Victoria's reign were the Crimean War against Russia (1854–1856) and the Boer War (1899–1902), the latter enormously extending Britain's influence in Africa. Increasing uneasiness at home and abroad marked the reign of Edward VII (1901–1910). Within four years after the accession of George V in 1910, Britain entered World War I when Germany invaded Belgium. The nation was led by coalition cabinets, headed first by Herbert Asquith and then, starting in 1916, by the Welsh statesman David Lloyd George. Postwar labor unrest culminated in the general strike of 1926.

King Edward VIII succeeded to the throne on Jan. 20, 1936, at his father's death, but he abdicated on Dec. 11, 1936 (in order to marry an American divorcée, Wallis Warfield Simpson), in favor of his brother, who became George VI.

The efforts of Prime Minister Neville Chamberlain to stem the rising threat of Nazism in Germany failed with the German invasion of Poland on Sept. 1, 1939, which was followed by Britain's entry into World War II on Sept. 3. Allied reverses in the spring of 1940 led to Chamberlain's resignation and the formation of another coalition war cabinet by the Conservative leader, Winston Churchill, who led Britain through most of World War II. Churchill resigned shortly after V-E Day, May 8, 1945, but then formed a “caretaker” government that remained in office until after the parliamentary elections in July, which the Labour Party won overwhelmingly. The new government, formed by Clement R. Attlee, began a moderate socialist program.

(For details of World War II, see Headline History, World War II.)

In 1951, Churchill again became prime minister at the head of a Conservative government. George VI died on Feb. 6, 1952, and was succeeded by his daughter, Elizabeth II. Churchill stepped down in 1955 in favor of Sir Anthony Eden, who resigned on grounds of ill health in 1957 and was succeeded by Harold Macmillan and Sir Alec Douglas-Home. In 1964, Harold Wilson led the Labour Party to victory. A lagging economy brought the Conservatives back to power in 1970. Prime Minister Edward Heath won Britain's admission to the European Community. Margaret Thatcher became Britain's first woman prime minister as the Conservatives won 339 seats on May 3, 1979.

An Argentine invasion of the Falkland Islands on April 2, 1982, involved Britain in a war 8,000 mi from the home islands. Argentina had long claimed the Falklands, known as the Malvinas in Spanish, which had been occupied by the British since 1832. Britain won a decisive victory within six weeks when more than 11,000 Argentine troops on the Falklands surrendered on June 14, 1982.

Although there were continuing economic problems and foreign policy disputes, an upswing in the economy in 1986–1987 led Thatcher to call elections in June, and she won a near-unprecedented third consecutive term. The unpopularity of Thatcher's poll tax together with an uncompromising position toward further European integration eroded support within her own party. When John Major won the Conservative Party leadership in November, Thatcher resigned, paving the way for Major to form a government.

Eighteen years of Conservative rule ended in May 1997 when Tony Blair and the Labour Party triumphed in the British elections. Blair has been compared to former U.S. president Bill Clinton for his youthful, telegenic personality and centrist views. He produced constitutional reform that partially decentralized the UK, leading to the formation of separate parliaments in Wales and Scotland by 1999. Britain turned over its colony Hong Kong to China in July 1997.

Blair's controversial meeting in Oct. 1997 with Sinn Fein's president, Gerry Adams, was the first meeting in 76 years between a British prime minister and a Sinn Fein leader. It infuriated numerous factions but was a symbolic gesture in support of the nascent peace talks in Northern Ireland. In 1998 the Good Friday Agreement, strongly supported by Tony Blair, led to the first promise of peace between Catholics and Protestants since the beginning of the so-called Troubles.

Along with the U.S., Britain launched air strikes against Iraq in Dec. 1998 after Saddam Hussein expelled UN arms inspectors. In the spring of 1999, Britain spearheaded the NATO operation in Kosovo, which resulted in Yugoslavian president Slobodan Milosevic's withdrawal from the territory.

In Feb. 2001, foot-and-mouth disease broke out among British livestock, prompting other nations to ban British meat imports and forcing the slaughter of thousands of cattle, pigs, and sheep in an effort to stem the highly contagious disease.

In June 2001, Blair won a second landslide victory, with the Labour Party capturing 413 seats in parliament.

Britain became the staunchest ally of the U.S. after the Sept. 11 attacks. British troops joined the U.S. in the bombing campaign against Afghanistan in Oct. 2001, after the Taliban-led government refused to turn over the prime suspect in the terrorist attacks, Osama bin Laden.

Blair again proved himself to be the strongest international supporter of the U.S. in Sept. 2002, becoming President Bush's major ally in calling for a war against Iraq. Blair maintained that military action was justified because Iraq was developing weapons of mass destruction that were a direct threat. He supported the Bush administration's hawkish policies despite significant opposition in his own party and the British public. In March 2003, a London Times newspaper poll indicated that only 19% of respondents approved of military action without a UN mandate. As the inevitability of the U.S. strike on Iraq grew nearer, Blair announced that he would join the U.S. in fighting Iraq with or without a second UN resolution. Three of his ministers resigned as a result. Britain entered the war on March 20, supplying 45,000 troops.

In the aftermath of the war, Blair came under fire from government officials for allegedly exaggerating Iraq's possession of weapons of mass destruction. In July 2003 Blair announced that “history would forgive” the UK and U.S. “if we are wrong” and that the end to the “inhuman carnage and suffering” caused by Saddam Hussein was justification enough for the war. The arguments about the war grew so vociferous between the Blair government and the BBC that a prominent weapons scientist, David Kelly, who was caught in the middle, committed suicide. In Jan. 2004, the Hutton Report asserted that the Blair administration had not “sexed-up” the intelligence dossier, an accusation put forth by BBC reporter Andrew Gilligan. The report strongly criticized the BBC for its “defective” editorial policies, and as a consequence, the BBC's top management resigned. In July 2004, the Butler Report on pre–Iraq war British intelligence was released. It echoed the findings of the U.S. Senate Intelligence Committee of the week before that the intelligence had vastly exaggerated Saddam Hussein's threat. The famous claim that Iraq's chemical and biological weapons “are deployable within 45 minutes of an order to use them” was especially singled out as highly misleading. But like the U.S. report, it cleared the government of any role in manipulating the intelligence.

On May 5, 2005, Blair won a historic third term as the country's prime minister. Despite this victory, Blair's party was severely hurt in the elections. The Labour Party won just 36% of the national vote, the lowest percentage by a ruling party in British history. The Conservative Party won 33%, and the Liberal Democrats 22%. Blair acknowledged that the reason for the poor showing was Britain's involvement in the war in Iraq. A number of political analysts believe Blair will not serve out his new five-year term. Many expect him to resign in the next several years and turn over the reins of the Labour Party to Gordon Brown, the chancellor of the exchequer, whose policies many credit in creating Britain's strong and stable economy.

On July 7, 2005, London suffered a terrorist bombing, Britain's worst attack since World War II. Four bombs exploded in three subway stations and on one double-decker bus during the morning rush hour, killing 52 and wounding more than 700. Four Muslim men, three of them British-born, were identified as the suicide bombers. On July 21, terrorists attempted another attack on the transit system, but the bombs failed to explode. A leaked document by a top British government official warned Prime Minister Blair more than a year before the bombings that Britain's engagement in Iraq was fueling Islamic extremism, but Blair has repeatedly denied such a link, contending that the bombings were the result of an “evil ideology” that had taken root before the Iraq war. Blair proposed legislation that would toughen the country's antiterrorism measures, and he suffered his first major political defeat as prime minister in November, when his proposal that terrorist suspects could be held without charge for up to 90 days was rejected.

In April 2006, the Blair government weathered a major scandal when it was revealed that since 1999 it had released 1,023 foreign convicts—among them murderers and rapists—into British society instead of deporting them to their countries of origin.

In Aug. 2006, London police foiled a major terrorist plot to destroy several airplanes traveling from Britain to the U.S. Intelligence sources asserted that the plan was close to execution, and had it succeeded, it would have been the deadliest terrorist attack since Sept. 11. A number of young men, most of whom are Britons of Pakistani descent, have been arrested in connection with the plot.

Blair announced in Feb. 2007 that as many as 1,600 of the 7,100 troops stationed in southern Iraq would leave in the next few months. “What all this means is not that Basra is how we want it to be, but it does mean that the next chapter in Basra's history can be written by Iraqis,” Blair said. contrasts to Blair. Indeed, Brown, typically dour, lacks Blair's charisma and quick wit. The new prime minister

In May Blair announced that he would leave office on June 27. Gordon Brown, the chancellor of the exchequer, succeeded Blair. Brown is a study in contrasts to Blair. Brown, typically dour, lacks Blair's charisma and quick wit. The new prime minister faces the task of shoring up the Labor Party, which has not fared well in recent elections, and of regaining the public's trust. Both have suffered from Britain's support of the U.S.-led war in Iraq.

Just two days into Brown's term, police defused two bombs found in cars parked in the West End section of London. The attackers, who officials say are linked to al-Qaeda, tried and failed to detonate the bombs using cell phones. Police detained several foreign-born suspects, several of whom were doctors. The next day, on June 30, an SUV carrying bombs burst into flames after it slammed into an entrance to Glasgow Airport.

In July 2007, four Islamist men, all originally from the Horn of Africa, were sentenced to life in prison by a British judge for attempting to bomb the London transit system on July 21, 2005.

On June 11, 2008, despite much opposition, a new counterterrorism bill passed by a nine-vote margin in the House of Commons. The bill allows the detention of terrorist suspects for up to 42 days without charges, extending the current 28-day detention limit. The vote was seen as a much-needed victory for beleaguered prime minister Brown.

See also Northern Ireland, Scotland, Wales, and dependencies of the United Kingdom.
See also Encyclopedia: Great Britain and England.
U.S. State Dept. Country Notes: United Kingdom
Office for National Statistics www.statistics.gov.uk/ .